DOA, KESATUAN, DAN PENANTIAN ROHANI: KAJIAN TEOLOGIS TERHADAP KISAH PARA RASUL 1:12–14
Isi Artikel Utama
Abstrak
Kisah Para Rasul 1:12–14 merupakan bagian penting dalam narasi gereja mula-mula yang menggambarkan kehidupan para rasul setelah kenaikan Yesus Kristus dan sebelum peristiwa Pentakosta. Teks ini memperlihatkan bagaimana para murid hidup dalam doa, kesatuan, dan penantian terhadap penggenapan janji Allah mengenai Roh Kudus. Namun, dalam banyak kajian teologi, perhatian lebih sering diarahkan pada peristiwa Pentakosta dalam Kisah Para Rasul 2, sedangkan makna teologis penantian para rasul sebelum Pentakosta masih relatif kurang mendapat perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna teologis penantian para rasul dalam Kisah Para Rasul 1:12–14 serta relevansinya bagi kehidupan gereja masa kini.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research). Sumber primer penelitian adalah Alkitab, khususnya Kisah Para Rasul 1:12–14 dan teks-teks terkait dalam Perjanjian Baru. Sumber sekunder berupa buku tafsiran Alkitab, teologi Perjanjian Baru, jurnal ilmiah, dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan pneumatologi, eklesiologi, dan spiritualitas gereja mula-mula. Analisis dilakukan melalui pendekatan deskriptif-analitis dan analisis eksegetis dengan memperhatikan konteks historis, struktur naratif, dan pesan teologis teks.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penantian para rasul bukan sekadar aktivitas pasif, melainkan bentuk ketaatan terhadap perintah Kristus, persiapan rohani sebelum menerima Roh Kudus, serta fondasi lahirnya komunitas gereja mula-mula. Penantian tersebut diwujudkan melalui ketekunan dalam doa, kesatuan jemaat, dan pengharapan terhadap janji Allah. Kajian ini juga menunjukkan bahwa Kisah Para Rasul 1:12–14 memiliki dimensi pneumatologis dan eklesiologis yang kuat karena memperlihatkan bahwa gereja dibangun di atas relasi dengan Allah dan ketergantungan kepada Roh Kudus. Selain itu, penelitian ini menegaskan bahwa spiritualitas penantian, doa, dan kesatuan tetap relevan bagi gereja modern di tengah tantangan sekularisme, pragmatisme, dan individualisme.
Dengan demikian, Kisah Para Rasul 1:12–14 tidak hanya memiliki nilai historis bagi gereja mula-mula, tetapi juga memberikan refleksi teologis mengenai kehidupan gereja yang dipanggil untuk hidup dalam doa, kesatuan, dan ketergantungan kepada Roh Kudus dalam menjalankan misi Allah di dunia.
##plugins.themes.bootstrap3.displayStats.downloads##
Rincian Artikel
Bagian

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Referensi
Appel, K. (2021). The Price of Prayer. Dalam In Praise of Mortality.
Ayuch, D. (2023). The Practice of Prayer in the Jerusalem Church according to the Book of Acts. Icoana Credintei.
Baba, E. D. (2022). The Theology of Prayer in the New Testament. International Journal of Humanities, Social Sciences and Education.
Barus, A. (2023). Prayer and Koinonia in the Fourth Gospel. HTS Teologiese Studies / Theological Studies.
Bruce, F. F. (1988). The Book of Acts. Grand Rapids: Eerdmans.
Burda, W. (2012). Modlitwa w Dziejach Apostolskich. Verbum Vitae.
Fee, G. D. (1994). God’s Empowering Presence: The Holy Spirit in the Letters of Paul. Peabody: Hendrickson Publishers.
Green, J. B. (1997). The Gospel of Luke. Grand Rapids: Eerdmans.
Green, J. B. (2001). Persevering Together in Prayer: The Significance of Prayer in the Acts of the Apostles. Dalam R. N. Longenecker (Ed.), Into God’s Presence: Prayer in the New Testament. Grand Rapids: Eerdmans.
Hoshikawa, K., & Staudigl, M. (2016). A Schutzian Analysis of Prayer with Perspectives from Linguistic Philosophy. Human Studies.
Keener, C. S. (2012). Acts: An Exegetical Commentary. Grand Rapids: Baker Academic.
Keener, C. (2019). The Spirit and the Mission of the Church in Acts 1–2. Journal of the Evangelical Theological Society.
Lang, M. B. (2025). Transcending Epistolary Communication: Prayer in First Thessalonians. New Testament Studies.
Smalley, S. (1973). Spirit, Kingdom and Prayer in Luke-Acts. Novum Testamentum.
Stott, J. (1990). The Message of Acts. Leicester: InterVarsity Press.
Suryady, R. (2025). Makna Persatuan dan Kepedulian dalam Pertumbuhan Gereja Mula-Mula Berdasarkan Kisah Para Rasul 2:1–47. Jurnal TABGHA.
Twelftree, G. H. (2006). Prayer and the Coming of the Spirit in Acts. The Expository Times.
Van der Merwe, D. V. D. (2018). Prayer, the Encounter and Participation, the Experience: A Pauline Exhortation towards a Spirituality of Prayer. Verbum et Ecclesia.
Wijaya, H., Chia, P., & Wauran, Q. C. (2025). Understanding Prayer in the Light of Ephesians 3:12–21 to Experience God’s Love: An Ethnoscopic Analysis Approach. Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat.
Wright, C. (2023). The Power of Example: Following Jesus on the Path of Spirituality in Luke-Acts. Religions. https://doi.org/10.3390/rel14020161