Banyak orang meninggalkan Tuhan. Tetapi sedikit yang benar-benar mencarinya dengan jujur. Di zaman ketika menjadi ateis terdengar cerdas dan menjadi agnostik terasa aman, satu pertanyaan jarang diajukan dengan sungguh-sungguh: Apakah kita sudah benar-benar memeriksa semua kemungkinan?

Si Jujur di Simpang Jalan ditulis untuk Anda yang sedang ragu. Untuk Anda yang lelah dengan jawaban dangkal. Untuk Anda yang tidak ingin lagi mewarisi iman tanpa berpikir.

Buku ini tidak menakut-nakuti. Tidak menghakimi. Tidak memaksa.

Ia justru mengajak Anda melihat lebih dalam: Mengapa manusia tidak pernah puas tanpa makna? Dari mana datangnya suara hati yang berkata “ini salah”? Mengapa kita marah pada ketidakadilan jika hidup ini hanya kebetulan? Mengapa cinta terasa lebih tinggi daripada sekadar naluri? Dan mengapa kematian tidak pernah terasa sebagai akhir yang masuk akal?

Sebelum Anda berkata, “Tuhan tidak ada,” sebelum Anda memilih menjadi ateis atau agnostik, bacalah perjalanan ini sampai selesai. Karena mungkin masalahnya bukan pada Tuhan— melainkan pada gambaran kita tentang-Nya. Dan mungkin, setelah semua pertanyaan dijawab dengan jujur, percaya kepada Allah yang nyata dan peduli bukan lagi terasa seperti lompatan buta,melainkan langkah paling rasional yang bisa diambil manusia.

Di simpang jalan itu, Anda tidak sendirian. Pertanyaannya tinggal satu: Apakah Anda cukup jujur untuk mempertimbangkannya?

“Sebelum menjadi ateis atau agnostik, jadilah jujur.” — Dr. Edi Zakarijah

Published: 12-04-2026